Cerita Sedih Mengharukan Tentang Pengorbanan Dan Perjuangan Bapak
Cerpen
Sedih .Cerpen singkat
terbaru kali ini yaitu cerita sedih
tentang seorang ayah atau bapak mengharukan.Cerita sedih keluarga ini boleh
dianggap fiksi ataupun true story yang memiliki pesan moral.Cerita sedih keluarga
anak dan ayah yang mengharukan dan menyedihkan ini sesuai dengan keadaan jaman
yang sudah tidak aneh lagi melihat hubungan keluarga anak dan ayah yang tidak
seharusnya.berikut cerpen singkat keluarga.
Cerita Sedih Tentang Cinta Ayah Terhadap Keluarga Dan Anaknya
Agar memudahkan dalam penulisan disini saya akan
menggunakan sudut pandang Aku.Di sini yang aku butuhkan hanya kalian baca dan
memahami. Bahkan, agar kalian tahu ketika pada suatu waktu merasakan, bahwa
hidup ini banyak gejolak, supermisteria dan dinamika gaib. Dan kita akan
menjalani pertapaan semu, Tapa Duka, untuk mendapatkan kemulyaan.
Tapa hidup ikhlas, diam dan tanpa marah apalagi dendam.
Inilah kisah yang aku jalani terhadap kehidupanku. Saat jatuh hari lahirku,
tanggal 5 April, hari Kamis Wage tahun 2012.
Aku hanya ingin kallan mendengar,betapa hidup ini begitu
banyak kejutan, begitu banyak dinamika dan persoalan. Salah satunya, hal
hubungan kasih sayang anak kepada bapak. Sementara bapak sangat merindukan dan
cinta, anaknya tak bergeming sedikitpun, bahkan sudah kehilangan rasa sayang,
kasih dan respek sama sekali kepada orangtua. Marah, dendam? Tidak’ Inilah
pertapaan sejati, bertapa menikmati keadaan, kenyataan hidup yang penuh misteri
dan supramisteria.
Tidak kusangka anak tertuaku begitu kejam kepadaku. Belum
sempat kakiku melangkah ke dalam rumahnya, aku sudah disuruh pergi. Dia usir
aku seperti binatang kotor dan langsung menutup pagar besi rumahnya yang mewah.
lstrinya, Ribka Ciptaning Kusumadewi, pikirku akan membelaku. Namun istrinya
ternyata lebih bengis. Lebih sadis dan tidak berprikemanusiaan sama sekali.
Sambil menutup hidungnya dia ajak suaminya masuk, lalu mulut nya bergoak goak
seakan mau muntah mencium bau bajuku yang kotor. Duh Gusti!
Era moderenisasi, era tehnoogi canggih membuat manusia
berubah cara dan polah hidup. Hubungan anak dan orangtua menjadi renggang dan
berjarak. Semua dihitung secara matematika dan materialisme. Kasih sayang anak
kepada orangtua makin susut dan surut. Rasa hormat dan respek anak kepada
orangtua makin ke sini, makin memudar. Lama kelamaan, mungkin, akan habis
ditelan bumi.
lnilah true story, kisah nyata yang aku alami sebagai
ayah dari dua anak. Dua anakku, yang pertama lelaki yang kedua wanita, kini
sudah menikah semua dan aku sudah punya tiga cucu.
Dari Roman Sudirama, 38, aku punya cucu satu, perempuan
bernama Naela Amarapurnacinta, dan anak wanitaku, Titah Panarukanti, 34, aku
punya cucu dua lelaki. Dandi Paramudya dan Dikti Sumanjayadi. Yang satu berumur
tiga tahun yang satu laki berumur satu tahun. Sementara cucu pertamaku, anak
dari Roman Sudirama dan Ribka Ciptaning Ksumadewi, sudah duduk di kelas tiga
sekolah dasar, umurnya delapan tahun, Naela Amarapurnacinta yang lucu dan
genit.
Aku tinggal sendiri jauh dari Bekasi, dari rumah kedua
anakku yang semuanya sudah mapan di sana. Aku tinggal di wilayah Bogor, di kaki
Gunung Salak, daerah Purwasari, Setu Uncal, kabupaten Bogor Barat. Aku tinggal
di sebuah gubuk reot bertani palawija, menggarap tanah Pak Haji Sutisna dngan
sistem kerjasama bagi hasil. Kedua anakku tak pernah tahu apakah aku masih
hidup, tinggal di mana aku, apakah aku makan atau tidak bisa makan, apakah aku
sakit atau sehat. Kedua anakku acuh tak acuh, tidak perdulikan aku sama sekali.
Namun, aku ikhlas, aku berlapang dada dan legowo.
Aku berbesar hati dan tidak dendam serta marah kepada
mereka. Walau sejak lahir hingga dewasa, aku membiayai mereka hidup, pendidikan
hingga keduanya sarjana dan mendapatkan kedudukan baik dari penghasilan yang
besar di dalam pergaulan dan pergolakan hidup. Aku bersyukur bahkan bersujud
syukur mereka semua sudah mapan, berpenghasilan cukup dari baik. Punya rumah
mewah, punya mobil banyak dan bagus serta hidup bahagia dalam keluarga.
Aku senantiasa berdoa untuk kebahagiaan mereka, untuk
kesehatan mereka dan untuk rejeki harta mereka agar tetap berlimpah. Hatiku
terbuka dan rela walau aku diperlakukan bukan seperti Iayaknya ayah kandung
mereka, tidak diperlakukan sebagaimana manusia, sebagai makhluk Tuhan yang perlu
dicinta dan disayang. lbaratnya, aku sudah seperti hewan Unggas dan binatang
kotor yang menjijikkan.
Mungkin kalian akan bertanya mengapa anak-anakku sampai
memperlakukan aku seperti ini. Tidak perduli kepada ayahnya dan tidak ada rasa
kasih dan hormat sedikitpun kepada sebagaimana umumnya terjadi antara anak-anak
dan orangtua mereka.
Kalian pasti menyangka bahwa aku tidak bertanggungjawab
dan tidak membesarkan mereka dengan baik. Maka itu mereka balas dendam, benci,
marah dan muak kepadaku, lalu membiarkan aku terlantar, terpuruk dan tak
diperdulikan sama sekali.
Sejak mereka bayi mereka aku sayangi sepenuh hati. Aku
cintai sepenuh jiwa dan pengabdian. Kusayangi dengan penuh cinta dan rasa
bergelora di dalam kalbu. Mereka kucinta dan aku Iebih mementingkan mereka
daripada diriku sendiri. Berulangkali nyawaku terancam dan diancam, namun
karena menyelamatkan mereka, aku nyaris mati. ltulah cintaku dan rasa
tanggungjawabku untuk mereka.
Pernah terjadi saat tinggal di rumah yang menempel pohon
bambu dan ada ular bludak terjatuh di situ. Aku melompat ke tempat tidur untuk
menyingkirkan ular dengan resiko nyawaku. Tujuan agar anakku yang sedang
terbaring, selamat dari gigitan ular yang sangat berbisa itu.
Lalu aku selalu menunggui tidur dan membunuh nyamuk
gendut yang menggigit kulitnya dan menghisap darahnya. Ya, aku sangat
memperhatikan anak-anakku dan aku sangat mencintai mereka.
Jika ditelusuri dengan seksama, aku yakinkan kalian
semua, bahwa aku sangat perhatian kepada anak-anakku.Sebab bukan hanya
menyayangi mereka tapi mereka kurasakan sebagai bagian dari jwaku, sebagian
dari jasadku yang menjadi satu darah. Derita mereka adalah deritaku, tangis
mereka adalah tangisku. Bahagia mereka, juga, bahagiaku. Maka itu, aku jungkir
balik mencari uang untuk biaya hidup.
Cerita Kisah Sedih Perjuangan Dan Pengorbanan Ayah
Aku tak mau mereka kelaparan, aku tak mau mereka
kekurangan susu. Mereka harus sekolah, beli buku, beli baju dan iuran yang tak
pernah terlambat. Tak ada yang salah perlakukanku terhadap anak. Karena aku
sangat mencintai dan sangat menyayangi mereka. Demi Allah, aku sangat cinta
kepada anak-anakku, semuanya.
Namun, di luar dugaanku, ternyata ibu mereka selalu
meracuni dua anakku untuk tidak menghormati aku. Kesalahanku menjadi noda hitam
yang harus selalu dipersoalkan. Kesalahan kecilku selalu menjadi besar di mata
anak-anakku dan kebaikanku, sebesar apapun, tidak pernah disebut serta
diceritakan kepada anak anakku.
Maka itu polah pikir anakku terpatri, bahwa aku adalah
penjahat, ayah yang jahat dan mempunyai suami yang sangat jahat yang tak patut
untuk dihargai dan dihormati. Itu terlanjur panjang hingga sekarang ini.
Asal muasalnya, suatu hari, aku menikahi seorang kekasihku.
Kekasihku hamil dan aku harus bertanggungjawab. Kehamilan itu rencananya
digugurkan, namun tak ada satupun yang berani melakukan itu. Dokter yang
biasanya menerima, menolak kanena sedang banyak dokter dan bidan yang
tertangkap oleh operasi polisi soal pengguguran kandungan. Maka itu, aku
bertekad, aku harus menikahi kekasihku dan kami lahirkan anak kami dengan baik.
Pada saat anak istri ke duanya berumur setahun, istri
tuaku menggugat cerai. Dia ditekan oleh dua anakku untuk menceraikan dan aku
harus keluar dari rumah kami yang selama ini kami beli bersama. Gugatan cerai
itu berhasil dan pengadilan agama Jakarta Timur di Kayuputih memutuskan kami
bercerai.
Anak-anak mengaku senang kami bercerai dan senang pula
aku menjauh dari mereka. Aku merasa aneh dan bingung, bagaimana anak-anakku kok
bisa begitu, mau menjauhkan aku dan tidak ada rasa sayang dan rindu sedikitpun
kepadaku.
Karena aku penasaran, sulit percaya bahwa anakku demikian
terhadapku, maka aku mengajak mereka berdua bicara. Ternyata memang diakui,
mereka inginkan aku pergi jauh dan menjauh dari mereka dan ibu mereka setelah
cerai.
Sejak itu aku menjauh. Aku membeli rumah di kampung istriku
di Kaki Gunung Salak, Situ Uncal, Purwasari, Bogor Barat. Di situ aku tinggal
bersama istri Marisa Handayani dan anak balitaku, Irfan Muhamad.
Aku bekerja di Jakarta dan jika libur bertani menggarap
lahan mertuaku yang cukup besar di Purwasari. Aku menanam jagung, cabe kriting
dan tomat. Hasilnya lumayan dan bisa dijual kepada tengkulak yang rutin datang
ke Purwasari.
Hari terus berlalu, bulan berjalan dan tahun pun selalu
berganti. Setelah tiga tahun tidak bertemu anak, aku merindukan mereka dan
datang ke ruma ibu mereka di Kampung Ambon, Rawamangun, Jakarta Timur. Mereka
menyambutku seadanya dan menyapa ala kadarnya, hingga aku tak betah di situ,
hingga aku buru-buru pergi. Aku segera pulang ke Bogor bersama istri dan anakku
dari perkawinanku ke dua.
Perjalanan hidup terus bergerak. Dunia terus berputar
dari hari-hari serta tahun semakin tua. Aku hadir saat anakku menikah,
keduanya. Bahkan yang wanita nikah, aku menjadi wali nikah sebagai ayah. Aku
yang menikahkannya dan setelah itu, aku dijauhkan lagi dari anakku dan mantuku.
Tahun 2016 bulan januari, istriku wafat karena suatu
penyakit mematikan, jantung koroner. Karena aku sedang menganggur, tak lagi
kerja di Jakarta di sebuah perusahaan advertising besar, maka aku total
bertani. Aku menggarap lahan orang dan bekerjasama berbagi hasil.
Walau sering gagal, namun aku bisa makan bersama anak
tunggalku Irfan Muhamad di Purwasari. Aku besarkan anakku sendirian dan aku tak
mau lagi menikah. Biarlah aku membesarkan Irfan Muhamad dan aku ingin dia nanti
bisa mandiri. Bekerja di Jakarta atau di luar negeri karena dia cukup cerdas
dan pintar dalam hal komputer.
Suatu hari, aku sangat merindukan dua anakku di Bekasi.
Mereka sudah mapan bekerja dan dua-dua sudah beli rumah baru yang bagus di
kompleks Regency Ungu, Bekasi Kota. Bersama lrfan Muhamad aku naik motor dari
Bogor ke Bekasi. Namun, belum sempat masuk aku disuruh pergi oleh anakku.
Setelah itu, mantuku juga, istrinya menyuruh aku dan
Muhamad Irfan buru buru pergi. Aku segera ke anak wanitaku, yang tak jauh dan
rumah itu. Di situ juga, aku diusir dan disuruh pergi. Oh Tuhan, mengapa mereka
begitu kejam kepadaku, ayah mereka, yang selama ini mengurus mereka,
membesarkan mereka dan mencintai mereka? Tapi entahlah, aku harus ikhlas
menghadapi kenyataan ini. Aku melihat wajah Irfan Muhamad sangat tertekan dan
dia sedih melihat kami berdua diusir dari rumah kakak-kaka mereka, anakku dan
istri terdahulu.
Kami pulang dengan suasana perasaan gundah gulana. Hatiku
hancur dan pedih, bahkan sangat sedih mensiasati kenyatan ini. Diusir dan
dibuang jauh oleh anak anak kandungku sendiri. Anak-anak yang harus rindu pada
ayahnya, malah tak ada perasaan kasihan sedikitpun. Aku dan Irfan Muhamad
pulang ke Bogor dengan perasaan duka yang dalam dan rasa sedih yang menyayat.
Pada malam harinya, Malam Jumat Kliwon, aku tak dapat
tidur. Sementara Irfan Muhamad telah terlelap di sebelahku tidur di atas ranjang
bambu. Suasana malam di Purwasari sangat sepi, hujan rintik-rintik turun dan
embun dari Gunung Salak memutih. Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 24.00
pas tengah malam. Kilat dari luan menyambar pepohonan sebelah gubuk kami. Petir
sesekali meledak dari arah selatan Gunung Salak.
Seorang kakek tua mengetuk pintu di tengah rintik-rintik
gerimis. Aku membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Dengan nafas terengah-engah,
Si Kakek masuk kegubukku dan duduk di bangku kayu. Aku mengambilkan teh hangat
dan memintanya minum. Bahkan sisa pisang goreng di piring, aku suguhkan
kepadanya dan dia’nikmati dengan enak.
“Biarkan anak-anakmu berlalu begitu kepadamu. Ini ujian
dan sebagai tantangan, kau sebagai pertapa sejati. Bertapa di tempat yang
ramai, dan bertapa hidup susah di tengah rejeki yang berlimpah. lkhlaskan
hatimu, besarkan hatimu dan makin rajinlah berzikir dan berserah diri kepada
Allah Azza Wajalla,” tuturnya, lirih.
“Lha, kakek ini siapa? Datang dari mana dan untuk apa ke
sini. Dari mana Kakek tahu masalahku dengan anak-anakku yang tadi siang baru aku
alami hal yang menyedihkan dari mereka?” tanyaku.
“Jangan tanya siapa aku, jangan tanya aku dari mana dan
untuk apa datang kepadamu. Yang jelas, kamu harus lebih mendekat kepada Allah
dan doakan agar anak-anakmu sehat semua, bahagia dan murah rejekinya. Kau harus
ikhlas, besar hati, legowo dan menerima kenyataan ini sebagai cobaan mu sebagai
Pertapa Duka. Nama tapa mu di tempat keramahan ini adalah Tapa Duka,” desis
Sang Kakek. Setelah bicara begitu, aku terkejut.
Sang Kakek, raib entah kemana, menghilang dalam hitungan
detik ke Gunung Salak. Tapa Duka, demikian Si kakek sebut perjalanan
kehidupanku berhubungan dengan anak. Apa pun kejahatan yang dilakukan
anak-anakku, adalah skenario Tuhan yang telah digariskan. Aku diabaikan, tidak
dihargai bahkan dinistakan oleh anak. Dan itu sebagai batu ujianku sebagai
pertapa duka.
Tapa Duka yang harus aku jalani karena aku akan
mendapatkan sesuatu yang sangat besar dan berharga sebagaimana yang disampaikan
Si Kakek. Sang Kakek, belakangan aku ketahui sebagai Sang Hyang Bawu rekso
penjaga Gunung Salak. Dia adalah gaib gunung yang sakti mandraguna dan
memberikan banyak kemulyan kepada manusia.
Aku, adalah salah seorang manusia pilihan itu. Yang diwajibkan
menjalani Tapa Duka hingga saatnya mustika penting akan diturunkan Allah
kepadaku. Melalui petunjuk dari Sang kakek, Sang Hyang Bawu Rekso penjaga
merapi Gunung Salak.
Kini, 5 Maret 2017 lalu, mustika itu datang. Mustika
berbentuk batu King Safir warna biru yang disampaikan oleh Sang Hyang Bawu
Rekso ke kamarku. Jatuh saat aku sedang berzikir di tempat tidur. Batu King
Safir itu, ternyata berisi jin Putri Mandalika Dewi dari Samudera Hindia.
Batu itu bisa berjalan di lantai dan bisa terbang ke sana
ke mari seperti laron. Warna biru menyala dan indah sekali. Batu itu, kini aku
simpan rapih di dalam kain hitam sesuai petunjuk gaib dalam zikirku. Batu itu
bisa merubah benci menjadi cinta dan merubah cinta menjadi benci. Alhamdulillah,
dengan batu ltu semua tender perusahan menang dan sukses.
Pejabat naik pangkat dan pelamar kerja langsung diterima
dengan gaji yang bagus. Yang paling penting ke dua anakku dan mantan istriku Iangsung
berubah 1000 persen. Mereka semua baik kepadaku, mengunjungi gubukku dan
membangun rumahku menjadi indah.
Aku kini menyelesaikan Tapa Duka ku karena mustika itu
telah datang dan aku bahagia sekali saat ini sujud syukur kepada Allah Yang
Maha Pengasih, yang telah mengembalikan anak-anakku yang hilang selama ini,
yang membenciku bagaikan hewan kotor yang hina.
Mereka semua mencitaiku, menyayangi Irfan Muhamad dan mereka
rutin mengunjungiku di Kaki Gunung salak. Kami bahagia sekali dan aku merasa
seperti hidup kembali. AIhamduIiIlahirrobbilalaamiin.(sumber:misteri)
Itulah cerpen sedih menghaarukan kisah sedih perjuangan dan pengorbanan sang ayah untuk anaknya
