Cerpen Cerita Novel Nyata Horor Misteri Mistis Siluman Kuda Pemakan Manusia
Cerpen Horor Nyata .
Cerita mistis hantu kisah nyata terbaru kali ini adalah cerita misteri kisah
nyata tentang manakutkannya akibat pesugihan.Cerita hantu siluman paling seram
dan nyata terbaru ini saya jadikan cerpen
horor sebagai artikel pertama untuk mengawali Kumpulan cerita horor nyata seram dan menakutkan terbaru.
Cerpen Horor Cerita Misteri Siluman Kuda Pencabut Nyawa
Sebelum Anda terjerumus, sebaiknya dipikir jernih. Tak
ada untungnya melakukan persekutuan gaib dengan makhluk halus. Terlebih dalam
urusan kekayaan. Meski enteng syarat dan enteng hasil, namun urusan
dibelakangnya sangatlah mengerikan. Segeralah bertobat... Insya Allah, Tuhan
memberi jalan terang seterang jalan di Surga. Amin...
Pengalamanku terjun di dunia pesugihan, membuatku
menyesal seumur hidup. Aku yang kala itu istri dari seorang pimpinan group
campursari, sedikitpun tak memikirkan masa depan keluarga. Beratnya menjalankan
dan besarnya resiko, tidak lagi sekedar cerita dan mereka yang pernah melakoni
dunia pesugihan. Pengalaman mengerikan yang belum bisa hilang dari ingatan
sampai sekarang, yakni ketika harus menyaksikan korban-korban pesugihanku
meregang nyawa di hadapanku.
Akibat dan menjalin hubungan dengan sosok makhluk halus
membuatku sadar akan besarnya resiko melakukan pesugihan. Itu berarti, harus
siap kehilangan banyak nyawa. Sebab, jika sudah sekali terjun, hanya ada dua
kemungkinan, kalau bukan orang lain mati, maka akulah yang jadi tumbal.
Pasalnya, semua angan dan rencana sering kali tidak sesuai dengan keadaan di
lapangan. Apa yang kita bayangkan sebelum melakukan persekututan, banyak yang
tak sesual kenyataan.
Waktu itu, tanpa seijin suami, aku melakukan ritual
pesugihan. Dengan bimbingan sang juru kunci yang paham seluk beluk dunia
tersebut. Pasalnya,salah satu tahap ritual yang kujalani, amat berat. Yakni
melakukan ritual sesembahan di tengah danau keramat, dengan syarat maupun
pantangan yang berlaku di pesugihan tersebut, sangatlah sulit. Waktu itu aku
yakin bisa melaksanakannya sendiri tanpa didampingi siapapun.
Memang aku berhasil melakukan kerja sama dengan makhluk
penguasa danau. Tapi sebelumnya, harus melewati perjuangan berat dan berbahaya
dan bagiku jauh lebih menegangkan ketimbang sewaktu aku melahirkan Nursalamah,
putri tunggalku yang mulai mangkat remaja.
Masih jelas dalam ingatan bagaimana mengerikannya
menyaksikan calon tumbal pertama yang aku korbankan. Celakanya, tak hanya calon
korban yang aku incar sebagai tumbal, tetapi beberapa nyawa orang tak bersalah
ikut juga jadi korban. Mereka ikut tewas bersama calon tumbal yang aku
sembahkan pada penunggu gaib pesugihanku. Masih terbayang dalam ingatan,
terlebih keluarga besar group campursari milik kami, sebut saja namanya ‘Dara
Vista’, sedang pakem.
Sebagaimana syarat wajib saat ritual, pada malam bulan
Purnama besar, aku menggelar panggung hiburan di rumah tetangga kampungku yang
menikahkan anaknya. Dengan dalih untuk membangkitkan lagi bisnis hiburan,
suamiku menawarkan tanggapan gratis. Gayungpun bersambut. Si empunya hajat pun
dengan suka cita menerima tawaran untuk menggelar hiburan. Pertunjukan yang
kami gelar berjalan hingga menjelang subuh. Semuanya lancar dan aman.
Tuan rumah malam itu memperoleh keuntungan yang cukup
signifikan. Begitu juga group kami, harta yang kami peroleh bukan dari si
pemilik hajat, tetapi dari hasil persekutuanku dengan lelembut pesugihanku.
Untuk pertama kali, hasilnya sungguh sangat mengejutkan. Seperti biasa, semua
peralatan, tenda, gamelan serta sound system campursari Dara Vista sudah
sebagian diantar ke rumah. Namun menjelang pagi, ketika aku meninggalkan
lokasi, anak buahku mengabari, bahwa Rosita tewas tenggelam di sungai.
Insinden mengejutkan itu tak hanya menggemparkan seluruh
personil group kami khususnya. tetapi warga Ngawi, Jawa Timur pada umumnya.
Peristiwa maut itu terjadi begitu kami selesai menggelar pentas. Kejadian itu,
setidaknya telah membuatku terperangah, tidak percaya.
Namun kenyataannya memang benar, ketika kudatangi tempat
kejadian, Rosita, gadis jebolan hasil didikan suamiku, adalah tumbal pertama
yang diambil penguasa gaib danau Ngantang. Pesinden asal kecamatan Banaran
Sragen itu akhirnya benar-benar tewas dengan cara mengenaskan.
Waktu itu, perahu yang dikemudikan Parmin (48), warga
desa Sekartaji, kecamatan Karanganyar, Ngawi, terbalik di sungai Bengawan Solo.
Yang membuatku kaget dan menyesal, saat dirinya tewas, ternyata ikut pula
beberapa siswa/santri dan warga lain yang jadi korban.
Enam orang korban tewas di lokasi tercatat masih mondok
di sebuah pesantren. Ditambah lima orang warga setempat, RoSita dan beberapa
personil group yang dibawahinya Tragedi itu terjadi pada saat group kami,
campursari Dara Vista baru saja bubar menggelar pentas. Aku mendapat kabar dari
anak buahku bahwa Rosita tewas di sungai Bengawan Solo.
Awalnya tak percaya, bagaimana bisa Rosita mati di
sungai? Sebab Ia sendiri sangat takut jika berada di sebuah sungai. Setelah
kuselidiki, ia mendapat job pementasan di desa Sekartaji. Karena antara
Mantingan dengan desa Sekartaji dibatasi sungai Bengawan Solo maka mau tak mau
harus menggunakan perahu kayuh tradisional untuk menyebrang menuju ke lokasi
tersebut. Ditambah karena jumlah penumpang melebihi kapasitas. Namun dipaksakan
juru mudi hanya karena melihat jumlah rupiah.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Jeritan minta tolong dari para santri dan santriwati serta penumpang lain
terdengar menyayat hati.Gema takbir terdengar pula dan mereka yang sudah
kelelep. Tangan-tangan mereka menggapai gapai timbul tenggelam, meminta pertolongan.
Untungnya, kejadian itu disaksikan oleh penduduk yang
sedang beraktifitas di sekitar sungai. Mereka serentak menyeburkan diri ke
sungai guna memberikan petolongan kepada Hamba Tuhan yang sedang diancam maut.
Tapi karena jumlah korban kecelakaan lebih besar dari pada orang yang menolong,
maka dapat dipastikan yang selamat bisa dihitung.
Akan tetapi bagi Parmin, begitu mengetahui perahunya
terbalik, sebagaimana pengakuannya sewaktu di rumah Tahanan Negara Ngawi, dia
sempat menyelamatkan para korban tidak lebih dari lima orang yang berhasil
ditolong. Upaya penyelamatan konban lain juga masih berlangsung, saat ia tiba
di lokasi kejadian. Waktu itu bukan aku saja yang ketakutan, tetapi juga tukang
perahu itu.
Parmin tiba-tiba saja kabur. Yang membuatnya Iari,
bukannya takut dikeroyok massa. Tetapi pada saat sedang menolong, sebagaimana
yang kulihat, Parmin sempat mendengar suara derap kaki kuda yang dibarengi
suara ringkikan di tepian sungai. Tak lama berselang, kami (aku dan Parmin)
sama-sama menyaksikan munculnya seekor kuda hitam yang sangat besar. Aku
terpana menyaksikan kemunculannya. Kuda betina itu memiliki tubuh tak lazim.
Sosoknya berwujud kuda tetapi berkepala manusia. Wajahnya seram dan mengerikan.
Aku dan Parmin, sama-sama ketakutan, manakala kuda besar
itu tiba-tiba mengangkat tubuh Rosita, yang sudah tak bernyawa. Begitu tubuh
Rosita sejajar dengan mulutnya yang lebar. Beberapa detik kemudian, kepala
pesinden yang dikenal dengan ‘goyang Dug Dug Ser’-nya itu lalu dimakan, hingga
menimbulkan suara gemeretak tulang yang remuk.
Mungkin baru pertama kali menyaksikan kejadian tersebut,
Parmin langsung kabur dari tempat itu dengan membawa sepeda ontel. Begitu puIa
aku, tanpa melihat makhluk siluman itu lagi, aku juga ikutan kabur. Seluruh
tubuhku menggigil. Panas dan dingin menyergap. Aku ketakutan setengah mati
menyaksikan makhluk itu memakan kepala Rosita.
Terbaliknya perahu yang dikemudikan Parmin, konon
ditenggarai salah satu tokoh masyarakat setempat sebagai akibat perbuatan
seseorang. Korban tewas lainya adalah salah sasaran dari kecelakaan tersebut. Dari
hasil perbincangan lintas dimensi alam gaib, tokoh asal Gendingan itu
mengetahui, bila Rosita adalah korban yang sebenarnya sedang diincar. Apa yang
dikatakan tokoh linuwih itu, memang benar. Rosita adalah korban pertama yang
kupersembahkan pada sosok gaib penguasa danau Ngantang.
Gencarnya berita tersebut, unituk beberapa waktu
membuatku gelisah. Tiba di rumah, aku Iangsung masuk kamar dan bersembunyi
dibalik selimut. Aku masih tidak pencaya, begitu ampuhnya pesugihan danau
Ngantang. Pasalnya, belum begitu yakin dengan yang kulakukan, tahu-tahu sosok
perewanganku sudah mengambil nyawa. Apakah keramat danau Ngantang secepat itu
mengambil tumbal?
Malam pertama dalam penumbalan nyawa, aku tak bisa tidur.
Setiap mendengar suara berisik, aku mengira itu langkah kaki petugas yang
memburuku. Padahal itu hanya suara hordeng yang diterpa angin. Perasaanku masih
terus dihantui oleh rasa takut yang luar biasa. Pagi harinya, kudengar
orang-orang di desaku heboh membicarakan peristiwa mengenaskan yang dialami
Rosita. Aku pun pura-pura ikut kaget. Tak seorangpun yang tahu, jika akulah
pelaku dan dalang dari semuanya.
Untuk beberapa hari, aku dan suamiku tidak melakukan apa-apa.
Selama itu pula waktu terasa lambat. Aku menunggu meredanya kasak-kusuk tentang
peristiwa kematian yang tak wajar pada diri Rosita. Sebagian, ada pula yang
mengklaim, jika kematian Rosita dan beberapa santri santriwati serta beberapa
warga lain, adalah akibat kelalaian Parmin yang tergoda uang. Keyakinan mereka
memang benar. Terlebih menemukan bukti fisik dari kejadian di TKP.
Sejak peRistiwa tragis itu, rahasia pesugihanku mampu kuredam
dan tetap jadi rahasia pRibadi. Aku bersikap wajar dan senang manakala
pementasan group campursari Dana Vista kian meroket. Namun menginjak tahun ke
dua, tiba-tiba muncul hal aneh dan menyeRamkan. Seperti kejadian pada malam
bulan Purnama besar yang kedua. Ketika aku menggelaR ritual di kamar
pendaringan, aku mulai mendengar suara derap kaki kuda mendatangi rumahku.
Saat belum sadar dan belum memahami sinyal tersebut,
mendadak sosok kuda besar hadir di dalam kamar. Mirip kuda betina yang telah
memakan Rosita di sungai bengawan solo. Kuda hitam berkepala manusia itu
ditunggangi sosok lelaki besar. Dan entah siapa yang turun dari punggung kuda
itu,tahu-tahu tangannya yang kuat memeluk tubuhku dari belakang.
Aku demikian terkejut hingga konsentrasiku buyar. Rasanya
aku ingin berontak sekuat tenaga agar lepas dari dekapannya. Namun sebuah suara
terdengar lirih ditelingaku yang memintanya diam dan menuruti semua kemauannya.
Katanya, hal itu adalah syarat wajib dalam perjanjian.
Demi lancarnya usaha bisnis suamiku, akhirnya akupun diam
dan menyerah apapun yang sosok itu lakukan pada tubuhku. Aku melayaninya.
Sebenarnya batinku menangis ketika siluman itu memperlakukanku layaknya seorang
istri. Aku lupa dosa pada suamiku, tatkala tubuhku direnggut hingga tak
sadarkan diri. Saat bulan Purnama besar kedua muncul, berarti aku harus
menggelar panggung hiburan lagi. Ini memang tahapan yang harus aku jalankan
jika melanjutkan perjanjian gaib.
Meski di bulan purnama besar kedua ini, sudah jarang
orang yang menggelar tanggapan hiburan, tetapi aku merencanakannya tepat dengan
hari ulang tahun kota kelahiranku, Sragen Asri. Ya, pementasanku kali ini
berbaur dengan pesta rakyat. Singkat cerita, pertunjukan yang kami gelar
berjalan mulus dan ditonton ribuan warga yang memadati alun-alun di tengah
kota. Hingga menjelang subuh, pertunjukan berjalan lancar.
Usai pertunjukan bubar, semua alat dan perangkat gamelan,
tenda yang sudah dilipat rapih kembali diantar ke rumah dengan truk milik sendiri
dengan kawalan suami dan beberapa nayaga yang sudah terlihat ngantuk.
Sementara, aku baru bisa pulang setelah semuanya beres. Namun ketika aku
meninggalkan lokasi, tepatnya beberapa blok dari alun-alun, aku melihat sebuah
motor tiba-tiba saja terjungkal di aspal seperti menabrak dinding tembok.
Pengendaranya seketika mati. Padahal aku melihat tak ada
satupun kendaraan yang lewat waktu itu. Kecuali motor yang kutumpangi. Itupun
posisinya sangat jauh dari lokasi orang itu terjatuh.Saat itu juga aku menghentikan
laju motorku dan turun untuk menolong. Tapi yang kulihat waktu itu sungguh
diluar dugaan.
Ternyata korban jatuh adalah mas Wiwid, asisten managerku
yang baru tiga bulan gabung dengan group campursari Dara Vista. Dia memang
orang pertama yang mengatur segala kegiatan dan rencana manggung group kami.
Mas Wiwid sehari hari tinggal di rumahku. Bahkan sudah kuanggap sebagai saudara
sendiri. Kejanggalan tak hanya cukup disitu.
Sejurus kemudian lagi-lagi aku melihat sosok kuda betina
hitam muncul dan menghampiri jasad mas Wiwid. Aneh! Kaki depannya yang kokoh
mampu mengangkat jasad mas Wiwid hingga berhenti tepat dimulutnya yang bergigi
besar-besar. Untuk beberapa saat hidungnya mengendus ngendus, mengerikan.
Tanpa perasaan, kepala mas Wiwid dimakannya dengan nikmat
seperti anak kecil mengulum permen. Menyaksikan kejadian mengerikan itu, tanpa
sadar aku menjerit keras. Saking takutnya saat itu juga aku kemudian lari
meninggalkan lokasi, disaksikan keheranan beberapa orang yang melintas serta
seorang tukang becak yang nongkrong tak jauh dari situ. Orang-orang yang
melintas dan tukang becak itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, menganggap aku
tidak waras, karena menjerit-jerit minta tolong tanpa sebab yang jelas.
Sampai di rumah aku pun Iangsung mengabari kecelakaan
tensebut pada suami dan beberapa pensonil kami. Suamiku langsung mengurus
pemakaman mas Wiwid dengan Iayak. Saat pemakaman aku tidak datang. Pasalnya,
sejak kejadian itu aku langsung jatuh sakit hingga berhari-hari. Apakah mas
Wiwid tumbalku yang kedua?
Hampir setiap hari pertanyaan seperti itu bergelayut di
otakku. Namun, setelah aku memperoleh hanta banyak, aku seolah tak memperdulikannya
lagi. Semua properti tua sudah diganti dengan yang baru dan lux. Untuk
transportasi kini sudah tambah dengan satu minibus dan sedan.
Kuakui, kami memang kalah bersaing dalam dunia hiburan
yang selama ini telah kami jalankan. Dan membuatku nekat menempuh jalan pintas
dengan melakukan persekutuan dengan bangsa lelembut. Kala itu aku belum tahu
jelas siapa yang akan ditumbalkan setelah aku melakukan pesugihan.
Baru setelah aku terjerat, akhirnya menjadi jelas. Bahkan
prosesnya amat mengerikan. Le Carik, adalah orang pentama yang mengenalkanku
dengan dunia pesugihan. Sebab dia sudah puluhan kali malang melintang jadi
pemandu gaib di lokasi-lokasi keramat.
Aku masih ingat waktu usaha bisnis suamiku sedang naik
turun. Tiba-tiba muncul sosok Rosita. Ia adalah pesinden dan penari muda yang
kurang jelas asal usulnya. Ia memiliki postur ideal sebagai pesinden, menarik
serta raut wajah yang sangat cantik.
Tak dipungkiri, setelah bergabungnya Rosita, group
campursari ‘Dana Vita’ yang dipimpin suamiku mengalami kemajuan. Rata-rata
penonton yang hadir begitu mengidolakan sosoknya yang disetiap penampilannhya
selalu mengutamakan lekuk tubuh ketimbang suaranya. Dan itu suatu kebanggaan
meskipun sebenarnya mematikan profesi pesinden lain.
Belum puas menikmati kepopuleran nama besar campursani
‘Dana Vista’, tiga bulan kemudian Rosita mengundurkan diri tanpa memberi alasan
jelas. Kami semua menjadi bingung.Terlebih suamiku. Meski berat untuk
dilepaskan, dengan terpaksa akhirnya suamiku mengijinkannya keluar dari group
kami. Tentu saja bisnis suamiku akan kembali terancam bangkrut.
Apa yang kupikirkan ternyata jadi kenyataan. Baru berjalan
satu bulan sejak Rosita keluar dari group, tetanggaku yang mantu hajatan menanggap
hiburan group campursari modern pimimpin Rosita, ya Rosita. Betapa tidak
terkejut aku dan suamiku saat itu.Ia baru saja mengundurkan diri, dan tiba-tiba
muncul mengusung sebuah group dengan lebel yang lebih elit. Apa maksud dan
semua itu?
Hampir semua relasi yang pernah memakai jasa suamiku
akhinnya berpindah melirik group Rosita entertainment. Bagaimana aku tidak
sakit, terdengar kabar miring, kalau pagelaran yang ia usung katanya melibatkan
ajimat ilmu pelet. Bahkan dalam setiap pagelarannya konon ia tak pernah mematok
harga tak jarang pula digratiskan.
Semua pelangganku pergi. Perlahan dan pasti group
kesenian campursani ‘Dana Vista’ benar-benar mengalami kehancuran. Modal habis.
Semua tabungan dan perhiasanku lambat laun ludes, dari hari ke minggu, minggu
ke bulan semua isi perabotan rumah pun telah habis di lego. Suamiku mengalami
depresi berat. Bahkan akhirnya akupun kehilangan akal sehat.
Entah setan mana yang telah berhasil menggoda imanku.
Ditengah kebingungan, mendadak aku ingat Le Carik, teman lama ayahku yang menjadi
juru kunci di tempat keramat. Tanpa berpikir dua kali aku nekat menemuinya.
“Apa aku tak salah dengar Put?” Le Carik terkejut.
Aku menjawab hanya dengan gelengan kepala, seolah itu
semua sudah menjelaskan semua beban yang menghimpit. Setelah semua cara dia
tawarkan, aku tetap pada pendirian, akhirnya dengan terpaksa dia membantuku.
Ritual Pesugihan di Danau Ngantang Seloreja Malang
Selang sehari setelah aku pamit beralasan mengunjungi
keluarga pada suamiku yang masih terpuruk, Le Carik membawaku ke sebuah tempat
wisata kawasan danau Ngantang, di desa Ngantang kecamatan Ngantang kabupaten
Malang. SekitaR empat jam perjalanan kami tempuh.
Tiba di tepi danau hari telah senja. Setelah menemui Pak
Sugito, seseorang yang dikenal Le Carik, meminta untuk dicarikan tukang perahu
yang bersedia mengantar ke tengah danau.
Malam itu setelah mendapatkan perahu, aku dan Le Carik
serta mas Gendut, tukang perahu yang aku sewa pergi ke tengah danau. Kulihat Le
Carik menceburkan buntalan kain putih ke tengah danau. Aku tidak tahu apa si
buntalan kain putih yang dilemparkan itu. Namun aku yakin jika itu adalah cok
bakal.Menurut keterangan Le Carik, pembuangan cok bakal ke tengah danau adalah
syarat yang wajib dilakukan calon pelaku pesugihan. Katanya, pesugihan model ini
disebut pesugihan ‘Tapal Ludro’.
Danau Ngantang merupakan salah satu tempat pesugihan yang
mampu mengambil orang lain di luar keluarga pelaku sebagai tumbalnya. Maka tak
heran jika syarat syaratnya sangat sulit. Syarat wajibnya antara lain,
sebungkus kembang telon, segenggam padi, dan tiga helai rambut kuda betina warna
hitam. Ubo rampe ini lalu disuguhkan di punden Mbah Demang. Setelah melakukan
ritual di punden, tahap selanjutnya ritual dilakukan di rumah.
Akupun menyiapkan ruangan kamar kosong yang di dalamnya
diisi sesaji kembang telon dan tiga helai rambut kuda betina warna hitam. Dan
ditambah dengan satu sendok liur kuda betia warna hitam yang ditaruh di dalam
lesung dan ditutupi dengan kain mori. Pesugihan ini dinyatakan berhasil jika di
dalam lesung terdapat uang sesuai permintaan.Dan ternyata benar keesokan
harinya, aku mendapatkan harta yang kuinginkan.
Setelah ritul berjalan mulus, pagi harinya aku diharuskan
kembali membuang sesaji ke tengah danau Ngantang.Sebagaimana yang disarankan Le
Carik, dalam mencari calon tumbal aku harus melakukan pengetesan dengan membawa
calon tumbal ke danau Ngantang. Akan tetapi karena waktu itu Rosita sudah
keluar dari group, aku kesulitan. Namun aku mendapat bocoran yang sedikit
melegakan. Aku disuruh mengambil potongan rambut dan baju calon tumbal.
Benda-benda tersebut kemudian aku buntal dengan kain mori lantas dilarung ke
tengah danau.
Dari banyaknya pendapatan, aku mulai terbiasa dengan situasi
mengerikan. Aku sudah tak pura-pura lagi jika menjelang bulan purnama besar ke
tiga datang mesti menyediakan tumbal lagi. Aku memang harus sudah siap. Siap
mental dan siap menyediakan calon tumbal lagi. Pada pagelaran manggung kali ini
aku bisa sedikit bernapas lega.
Si empunya hajat malam itu mendapat tamu undangan yang
cukup membludak. Sehingga keteter dalam hal persiapan prasmanan. Anehnya,
menjelang pagi, yang menonton juga bukannya semakin sedikit melainkan semakin
bertambali banyak. Dan baru selesai hingga pagi menjelang.
Setelah semua peralatan terangkut dan para nayaga serta
sinden tiba di rumah masing-masing, aku pun pulang bersama mereka. Mengingat
peristiwa yang sudah-sudah, kali ini aku takut jika pulang sendiri. Namun
sayang, pertunjukan baru dimulai, suamiku pulang lebih dulu untuk istirahat.
Aku maklumi itu, sebab dialah orang pertama yang selalu sibuk jika ada acara
pentas. Aku begitu bahagia malam itu. Sebab pentas campursari Dana Vista
berjalan mulus. Akan tetapi, begitu mendekati rumah aku melihat kerumunan orang.
Dengan penasanan aku segera bergabung dan berdesakan dengan mereka yang
berkerumun.
Alangkah terkejutnya, ketika kulihat suamiku tergeletak
tak bernyawa di bahu jalan. Menurut saksi mata, suamiku adalah korban tabrak Iari.
Lagi-lagi pada saat itu, aku menyaksikan, kembali sosok siluman kuda betina
hitam menghampiri jasad suamiku. Sebagaimana yang dilakukan pada jasad kedua orang
yang aku tumbaikan, siluman itupun kemudian memakan kepala suamiku hingga
remuk. Aku menjerit histeris mendengar suara tulang-tulang tengkorak kepalanya
saat di kunyah.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Menyaksikan ke
tiga peristiwa itu aku mulai membenci perjanjian gaib dengan sang penguasa
danau Ngantang. Aku tak ingin anak semata wayangku menjadi tumbal kekayaan
berikutnya. Sejak itu akupun meminta bantuan Le Carik untuk menutup perjanjian
tak tertulis itu. Aku tidak akan mengikat penjanjian lagi. Aku percaya rejeki
itu ada yang mengatur. Ada di tangan Tuhan.sumber:misteri
Itulah cerpen horor nyata seram terbaru artikel pertama untuk koleksi kumpulan cerita novel horor
